[Hanna & Cerpennya 03] Enemy or Best Friend?
Dua
sahabat yang biasa dijuluki ‘Two Angels’, ada Sesilia dan Kei. Keduanya sedang
menyimak pelajaran sejarahnya Pak Joe. Pak Joe mengambil selembaran kertas di
laci mejanya, membenarkan dasinya dan mulai membacakannya pada murid-murid di
kelas dimana ada Sesilia dan Kei.
“Pengumuman
Hasil Nilai Ulangan Mingguan Sejarah minggu ini,” umumnya. “Peringkat pertama
diraih oleh......... Sesilia Novita Andyni!” tepuk tangan para murid kelas 7E
seketika memenuhi ruangan kelas itu. Sesilia tersenyum manis saat beberapa
temannya menoleh ke arahnya dan mengucapkan selamat. Melihat itu, hati Kei
terasa panas. Ntah kenapa.
“Peringkat
terakhir, dicapai oleh............ Anastasiya Keila Maharani!”. Hening. Semua
yang ada di kelas itu terdiam. Biasanya, mungkin semua anak akan menertawakan
orang yang mendapatkan peringkat terakhir itu. Baru pertama kali ini mereka tak
menertawakannya. Ya, karena Kei adalah siswi yang selalu masuk peringkat
pertama dalam ulangan sejarah, selalu. Tapi kini? Sesilia menoleh ke arah
sahabatnya itu, terlihat sekali wajah Kei yang nampak sedih, kecewa dan
ditekuk-tekuk. Sesil menepuk pelan sahabatnya, “Sabar.. Nanti kita belajar
bareng lagi, ya...”
GRAKK!
“AKU
GAK PERLU DIKASIHANI! KAMU UDAH PUAS LIAT AKU MENDERITA? HAH!?” bentak Kei. Ia
lalu pergi ke toilet dan disusul dengan hempasan pintu yang cukup membuat Jia,
teman mereka, terlatah-latah.
Kei
menghapus air matanya. Hiks.. kenapa aku harus menjadi peringkat terakhir?
Padahal aku selalu dan selalu menjadi peringkat pertama.. kenapa si Sesil,
sahabatku sendiri yang mengambil posisiku? KENAPA? teriak Kei dalam hati. Air
matanya terus mengalir bagai air terjun. Kei yang sadar tadi telah membentak
Sesil, dan itu keras sekali, malu untuk kembali ke kelas. Di dalam toilet, ia
terus memikirkan cara agar tak bisa kembali lagi ke kelas itu. Dan akhirnya, ia
memilih untuk pura-pura sakit dan izin pulang karena tak enak badan.
Di
kelas, Sesil menunggu dengan cemas sahabatnya itu. Pak Joe berusaha
mengendalikan suasana. Bu Ani, penjaga UKS masuk ke kelas 7E. Beliau
membisikkan sesuatu pada Pak Joe, dan pamit kembali ke UKS. Mimik Pak Joe
berubah cemas, Sesil bisa menebak pasti ada apa-apa dengan Kei. “Kei tak enak
badan. Ia izin pulang. Wajahnya pucat dan matanya sembab.” ujar Pak Joe.
Kei
merebahkan badannya ke ranjang bergambar Girls’
Generation yang berwarna pink. Ia memeluk guling kesayangannya erat,
teringat kejadian tadi, Kei menangis sejadi-jadinya. Lucky, di rumah Kei tak ada siapa-siapa. Hanya Bi Pah yang sedari
tadi menyirami bunga di taman. Kei membuka tasnya, dicarinya hasil ulangan
mingguan yang tadi dibagikan. Ia meremas kertas itu dan membuangnya ke tong
sampah. “Kenapa dia jadi lebih pintar dari aku, sihh! Jelas-jelas IQ-ku lebih
tinggi daripada dia!” amuknya.
***
Sudah
4 hari Sesil dan Kei tidak saling berkomunikasi. Walau Sesil sering mengatakan
‘maaf’, ‘sorry’ kepada Kei, seakan-akan itu hanya angin lalu bagi Kei, ia tak
mau menjawabnya dan memilih menghindar. Di hari kelima ini, tanpa di sengaja,
Kei mendengar pembicaraan dua orang siswi di toilet sekolahan.
“Hei.
Si Kei sengak banget, ya. Jelas-jelas Sesil udah minta maaf secara tulus gitu,
masih aja gak ditanggepin. Dasar bodoh.” makinya. Mendengar itu, Kei ingin
sekali memukul cewek yang berani mengatai dirinya, ‘bodoh’ dan ‘sengak’.
“Iya.
Sehari sebelum diadakannya ulangan sejarah, tau gak ada apa?” tanya cewek
satunya.
“Apaan
tuh?”
“Aku
lihat Kei belanja di mall! Habis dari Timezone sama beli baju dia mah! Ckck, pantesan nilainya njeblok gitu!”
“Dia
udah ngerasa pinter kali!” timpal cewek tadi.
JLEB!
Dada Kei sakit. Seperti ditusuk panah sakti, hatinya remuk seketika. Tak
disadari, air mata Kei keluar begitu saja. Ah.. iya, ya. Bodohnya aku, kenapa
aku tak belajar? Kenapa aku malah pergi ke mall? isak Kei dalam hati. Ia sadar
sekarang. ‘Seharusnya aku sadar diri..’
Kei
keluar dari toilet, disana sudah tak ada 2 siswi tadi. Ia melangkah menuju meja
Sesil. Sesil yang sedang mengobrol dengan temannya menoleh ke arah Kei. “Hai,
Kei!” sapanya riang.
“A..
aku.. mau minta maaf. Aku.. aku gak instropeksi diri, Sil. Sehari sebelum
ulangan, aku malah pergi ke mall. Bodoh ya, aku ini?” Kei berlutut ke arah
Sesil. Sesil kaget. “Maaf, Sil. Maaf.. seharusnya aku dukung kamu, kasih kamu
selamat, aku malah... malah marahin kamu...”
Sesilia
tersenyum manis.
“Nggak.
Nggak apa-apa. Aku udah maafin kamu, kok. Yaah, aku juga minta maaf udah ambil
posisi kamu. Jadi?”
“Jadi?”
Kei menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Jadi
kita berteman?”
“Nggak!!”
bantah Kei.
“Kenapa..?”
mata Sesil berkaca-kaca.
“KITA
BERSAHABAAAATTT!!!!!” Kei memeluk sahabatnya itu. Ya, tak ada yang namanya
mantan sahabat.
Mari
kita instropeksi diri sebelum menilai orang lain. Memikirkan ucapan yang akan
kita ucapkan sebelum kita melukai orang dengan ucapan kita. Mulutmu, harimaumu.
Jika mulutmu bau, segeralah gosok gigi(?).

Komentar
Posting Komentar