[Hanna & Cerpennya 07] You're My Object (FanFiction EXO)
You’re
my object
Hei. Aku Na
Yeon, aku seorang stalker pro. Bukan sasaeng
fans, lho! Aku menjadi stalker karena dibayar. Kali ini, targetku adalah Oh
Se Hoon. Sebelumnya aku tak mengenal dia. Tapi, saat klienku menyerahkan foto
dan data-datanya, aku mulai mengerti siapa dia.
Dia artis boyband ternama yang masih seumur
jagung, alias baru melakukan debutnya, namanya EXO. Yah..., wajahnya cukup
ganteng sih. Klienku ini exo-stan,
dia ingin aku men-stalk kehidupan
pribadinya dan menyuruhku memfotonya. Yah, begitulah aku, stalker. Tapi biayaku
tak semurah tiket konser, lho. Cukup mahal. Karena ayahku, ehm.. perdana
menteri Korea Selatan, aku menfaatkannya untuk masuk ke dalam acara-acara atau event-event yg dituju.
Berhubung si
Sehun, panggil saja dia seperti itu, adalah member boyband yang akan tampil di Mnet Asian Music Awards (MAMA), aku
harus bisa masuk ke dalam sana. Dan... menjadi penonton VVIP atau bahkan
menjadi salah satu staff illegal. Tapi, klienku itu hanya memberiku beberapa
won saja untuk biaya masuk ke acara itu. Hmm...
***
Drap! Drap!
Drap!
Fuh! Untung
aku tidak terlambat. Untuk kali ini, aku harus menggunakan beberapa uangku
untuk membeli tiket VVIP. Menyamar menjadi staff sepertinya aku coret saja, itu
bisa mempermalukan ayahku kalau penyamaranku terbongkar.
Aku sekarang
sedang berdesak-desakkan untuk memfoto Sehun. Uukhh! Ternyata disini banyak sasaeng fans!
Aku
menggenggam SLRku erat-erat agar tak terjatuh dan lensanya tak kotor. Uff...
“Mari kita sambuuutt.... Super Junior!”
Barisan rada
melonggar. Sekarang aku bisa bernafas lega, dan aku sudah bisa menyentuh tanah
sekarang (tadi aku dipepet-pepet, hingga melayang). Hampir semua penonton
mengarahkan matanya pada Super Junior yang sedang perform itu. Ck. Tapi kenapa
si Sehun ikut-ikut melongo? Ah, aku lebih suka si objek memandang ke arah
kameraku daripada melihat ke arah lain.
“Se...
Sehun-ssi!” jeritku gugup.
Sehun
menengok ke arah kiri. Uukh! Kenapa malah ke arah kiri! Aku di sebelah kananmu,
bego! Akan kucoba panggil dia lagi.
“SE
HUN-ssi!” teriakku lebih lantang. Aku sudah menyiapkan kameraku.
Klik.....
JPRETT!!
Yap! Dapat!
Aku
melepaskan kameraku, melihat hasil foto-foto yang lain dan menambah beberapa
efek. Ho-ho-ho! Aku memang stalker pro!
Sekarang,
waktunya istirahat dan menunggu perform Sehun! Lalu memfotonya habis-habisan!
***
Kringg!
Kringg!
“Ya? .....
oh, ya! Aku sudah dapat beberapa foto Sehun. Tadi aku juga dapat angle yang pas. ..... Ya! Hahaha!
Baiklah, Yoonju-ssi! Habis acara ini aku akan stalk dia habis-hab–
....Sehun?”
Tutt.. tutt..
tuutt..
Aku membeku.
Astaga. Ke.. kenapa ada Sehun disini...
“Ah, kau yeoja yang tadi memanggilku,
kan?” tanyanya. Eh? Kenapa dia bisa mengenaliku?
“Ne. Tunggu,
kenapa kau bisa mengenaliku?” tanyaku heran.
Dia
tersenyum simpul. “Tentu. Kau beruntung. Angle-ku
tadi sangat pas, kan? Saat yang lain sedang melihat hyung-hyung Super Junior tampil, aku menengok ke arahmu. Pasti aku
sangat keren,” pujinya pada diri sendiri. Narsis, batinku.
Aku tertawa
kecil. “Ah, iya. Angle-mu tadi sangat
bagus dan pas. Kau juga terlihat tampan, lho.”
Aku melirik
ke arah Sehun.
A... apa?!
Ke.. kenapa dia blushing? Ya Tuhan...
manisnyaaaa!
Klik....
JEPRETT!!
“Ups...
sorry, gak sengaja...” aku membentuk kedua tanganku pose peace V. Lalu nyengir lebar.
“Eh..... Ah,
gwaenchanayo. Ngomong-ngomong, siapa
namamu?”
Aku
terkejut. Kenapa dia tanya namaku? Hmm.. aku jahili dia saja, deh. Hahaha.
“Mm.. nama palsu, nama asli atau nama panggilan?” tanyaku balik.
“Nama
panggilan.” jawabnya serius. Aku hampir saja terjungkal karena menahan tawa yg
berlebih.
“Na Yeon.
Ada apa?”
Sehun
menarik daguku. Aku tersontak kaget. Ja... jangan-jangan dia mau menciumku?!
Tu.. tunggu dulu!
“Kau sangat
lucu dan manis, Na Yeon-ssi.”
Bibir kami
hampir bertautan.... dan....
“Sehun!!
Cepatlah! Semua member sudah siap!!” teriak seseorang. Sehun menghentikan
‘perjalanan ciuman’ kami. Wajahnya memerah padam. Wajahku juga tak kalah
merah...
“Nee!”
teriaknya balik. Dia lalu menengok ke arahku. “Na Yeon-ssi, ku harap kita bisa
bertemu kembali.”
Cup!
He... Hei!
A.. apa.. apa-apaan dia?! Di.. dia menciumku... tepat di bibir..
Aku berjalan
keluar sambil memegang SLRku kuat-kuat. Menundukkan kepala. Bu.. bukan, aku
bukannya marah atau kesal. Tapi.. aku malu...... AAA!
Ukhh. Papa,
sepertinya anak gadismu ini akan mulai tertarik kepada seorang laki-laki.
Apalagi dia artis. Maafkan aku, Papa... mungkin Papa akan marah.


lanjuttt
BalasHapus