[Hanna & Cerpennya 06] The Train Boy
The Train
Boy
Saat itu, aku tak sengaja menyenggol ‘Si Cowok
Kereta Api’ itu, lalu menjatuhkan buku-bukunya. Sebelum aku memungutnya, ia
langsung mengambil buku-buku itu dan berlari menuju kereta api bawah tanah
nomor ‘10b’ jurusan Kudus. Esok harinya, aku datang pukul 7 kurang 5 menit.
Belum ada ‘Si Cowok Kereta Api’ itu. Tapi anehnya, saat kereta api bawah tanah
nomor ‘10a’ lewat, sekelebat bayangan muncul di balik bayangan kereta
bergerbong 4 itu. Setelah ia sudah tak terlihat, disana ada ‘Si Cowok Kereta
Api’! Ia memang seolah-olah turun dari kereta api itu, tapi bukankah tadi
kereta nomor ‘10a’ itu lewat, bukan berhenti di peron? Lalu, bagaimana ia
datang? Loncat dari pintu kereta itu kah? Ah, tak mungkin. Sejak saat itu, aku
mulai memperhatikannya. Sosoknya memang seperti seorang ‘scholarship’ dari
Cina, Jepang atau Korea. Rambutnya ia buat seperti model artis Justin Bieber –
dengan poni dimiringkan, badannya tegap mencerminkan kalau dia orang yg tegas
dan berwibawa, dadanya bidang, berkacamata dan selalu membawa tas lusuh
berwarna coklat. Bajunya juga kadang putih, coklat atau biru. Itu-itu saja.
“Sederhana sekali” pekikku saat hari ketiga
pengintaianku. Aku seperti seorang stalker
saja, ya? Haaah, biarlah.
Sosoknya memang seperti pelajar ‘scholarship’
dari Cina, Jepang, atau bahkan Korea. Tapi, saat hari kelima pengintaianku, aku
menemukan fakta bahwa dia adalah salah satu murid di Universitas Semarang. Kuintip
lagi, oh! Dia ternyata warga pribumi. Waktu itu, hari kelima pengintaianku, ada
seorang nenek akan menyeberang ke tempat aku berdiri, dia langsung berkata,
“Monggo, nek. Kula anterkenipun” sambil tersenyum manis. Aiiih, jantungku
berdegup dibuatnya.
Back. Sudah 2 minggu aku bertemu dengannya – tiap
jam 8 tepat, kejadiannya selalu seperti tadi. Hari ini ia tak datang. Aku
cemas, apakah terjadi sesuatu dengannya? Apakah ia sakit? Atau keluarganya ada
yg sakit? Mungkinkah ibu, ayah atau adiknya sakit lalu ia harus menjaga mereka
dan rumahnya? Sekarung jawaban mulai menetas satu persatu di otakku yg masih
kelas 3 SMA ini. oh, gila. Sudah 1 jam aku menungguinya di peron ini. Tapi yang
hanya kulihat hanya orang-orang sibuk berlalu-lalang dihadapanku, mungkin ada
juga yg sedang menarik perhatianku karena pagi ini aku menggunakan T-shirt
selengan, celana jeans dan topi koboy, ataukah mereka hanya mengira aku orang
gila? Haha, aku cuek saja.
“Mana, sih?” aku menggoyang-goyangkan kakiku.
“Apa aku perlu pergi ke Universitasnya dan menanyakan kabar pada para
teman-teman kampusnya dan para dosennya? Aissh, kenapa aku mengkhawatirkan
orang yang sama sekali tak ku kenal?” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak
gatal. Ya, kami kan hanya ‘orang-yang-menjadi-penumpang-subway-train’ ini saja.
Tak lebih.
Tik..
Air mataku jatuh. Ntah kenapa. Aku menundukkan
kepala agar semua orang tak tahu aku menangis. Aku akan sangat sangat malu jika
semua orang tau aku menangis, ini kan tempat umum. Aku merogoh kedua saku
jeansku. Oh ya, aku lupa membawa tisu. Aduh..
“Kenapa nangis?” tanya seseorang. Aku
menggeleng, “Tak apa” aduh, pasti suaraku terasa bergetar karena menahan
emosiku. “Ini. Kau butuh sapu tangan” orang asing itu menyerahkan sapu
tangannya. Ah, biarlah, kugunakan saja sapu tangan ini.
Aku mendongakkan kepalaku. Oh dear... apakah
aku sedang bermimpi? ‘Si Cowok Kereta Api’ itu ada dihadapanku sekarang! Ia-lah
yang memberikan sapu tangan. Aku menunduk lagi. ‘Si Cowok Kereta Api’ itu
menyentuh lembut pipiku yang basah dan berkata lirih dengan lembut, “Ada apa?
Apakah aku yang membuatmu menangis?”. God, pasti aku sudah tuli sekarang,
kata-kata semanis itu langsung mengenai hatiku.
Aku mengangguk lemas. “Aku... aku sungguh
khawatir dan cemas. Kenapa kau tak datang? Apakah kau sakit? Berkilo-kilo
pertanyaan bertebaran di otakku. Aku tak tau aku kenapa, yang jelas, saat kau
mengantarkan nenek-nenek itu dan tersenyum manis, juga waktu kau membisikkan
bisikan lirih nan lembut itu padaku, hatiku berdegup sangat kencang..” aku
menutup hidungku. Pasti ingusku akan keluar kalau aku lanjutkan kata-kata itu.
“Jadi, kau juga menyukaiku? God, terima kasih.
Cintaku yg sudah kupendam 2 tahun lamanya akhirnya terbalas.. Kau memang maha
adil, God” ia memelukku yang masih kebanjiran tangisan dan ingus. Kemudian ia
menarik wajahku sambil berkata, “Hai. Sudah lama tak bertemu. Aku Rendi, kakak
kelasmu dulu, sekaligus orang yang mengirimimu sebuket bunga mawar valentine
lalu. I Love You, Zee..”


Komentar
Posting Komentar