[Discuss with Me! 01] Anak Tunggal Bukan Anak Manja

Halo!
Bagi pengunjung setia blog saya. Perkenalkan, saya Hanna. Jadi mulai dari sini, blog saya akan ber-segment. Agar lebih tersortir dan tertata sebagaimana mestinya. Hehe. Ini juga akan memudahkan teman-teman yang ingin mencari hal-hal yang berhubungan dengan minat baca kalian, tanpa perlu harus buka satu-satu dan lihat kalimat utamanya dulu. Sebenarnya ada sistem tag, tapi sungguh tidak begitu efisien di kasus blog yang memakai template gratisan seperti blog saya ini, hihi.

So, jadi ini segment pertama untuk "Discuss with Me!". Dimana isi dari segment ini yaitu mengajak teman-teman pembaca sekalian untuk berdiskusi bersama saya mengenai judul yang diberikan. Untuk tulisan terdahulu, sengaja tidak saya ganti kata-katanya biar teman-teman tahu bagaimana alaynya saya semasa dulu! Enjoy!

- Hanna, 2019 -




Hai!
People!
World!
Rakyat negara +62!

Hehe.

Assalamualaikum semuanya. Kembali lagi ke blog aku. Udah agak lama ya aku nggak update? Maaf banget karena sibuk sana-sini (cielah sok sibuk). 
Sebelum menuju ke topik, sebenarnya aku mau mengajak kalian diskusi tentang stereotipikal (stereotype) anak tunggal yang ada di Indonesia. Berhubung aku sendiri anak tunggal (secara garis keturunan), jadi aku agak tertarik untuk mengupas masalah ini. Mengapa aku bilang kalau aku anak tunggal secara garis keturunan? Ya.. karena sebelum aku lahir, Pakne dan Bune sempat mengadopsi seseorang yang sekarang aku panggil "Mas".

Anak Tunggal sendiri memiliki definisi sebagai seseorang yang lahir di sebuah keluarga dimana dia tidak memiliki kakak maupun adik. Kakak adalah seseorang yang terlebih dahulu lahir, dan adik adalah seseorang yang lahir setelahnya. Technically, I'm part of it. Maka dari itu, anak tunggal sering mendapatkan perhatian lebih dari kedua orang tuanya, misalnya ketika dia menginginkan sesuatu maka orang tuanya akan langsung mengiyakan tanpa berpikir seribu kali. Hal tersebut yang secara tidak sadar akan membuat karakter seseorang menjadi, bisa dibilang, egois dan sukar mengalah. Egois karena dia sedari kecil terbiasa mendapatkan apa yang dia mau. Maka ketika dia sudah beranjak dewasa, ketika dia menginginkan sesuatu maka dia cenderung tidak mau mengalah dan memang mau tidak mau harus mendapatkan hal tersebut tanpa mempertimbangkan banyak hal lain. Karena keegoisan inilah yang membuat seseorang menjadi 'dicap' manja. Merengek meminta sesuatu, jika tidak diberi marah besar. Ya... layaknya anak kecil.

Tapi sebenarnya tidak.

Teman-teman disini tidak bisa langsung menilai bahwa seseorang itu manja dan egois hanya dilihat dari dia anak tunggal atau bukan. Inilah kenapa aku tidak begitu suka dengan stereotype, karena itu hanya sebatas hipotesis dan cenderung mengelak akan fakta.
Nyatanya, orang-orang di Indonesia yang tidak memiliki saudara kandung di keluarganya justru memiliki pola pikir yang agak unik dan lebih dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Percaya?
Oke sekarang mari kita bedah.
Tidak memiliki sosok panutan (kakak) di sebuah keluarga akan membuat individu tersebut menjadi lebih bertanggung jawab. Dia akan merasa tidak enak apabila tidak membantu orang tuanya, karena dia harus menjadi contoh bagi yang lain. Dia akan merasa tidak enak apabila tidak sukses, karena dia yang akan menjadi tonggak penerus keluarga tersebut. Semua tugas akan cenderung dia selesaikan sendiri tanpa bisa meminta tolong kakak atau adiknya.
Begitu pula dengan kosongnya sosok sahabat dekat yang bisa saling bercanda-gurau (adik) di keluarga tersebut, akan membuat anak tunggal cenderung sukar mengekspresikan sesuatu, karena dia tidak tahu apakah guyonan atau seleranya akan cocok dengan lingkungan di luar keluarganya. Semua tekanan batin akan cenderung ia simpan sendiri. Ya, kami merasa kesepian.


Memang semua perhatian akan terlimpahkan kepada sang anak tunggal.
Tapi, harga yang harus diganti sangat besar juga.

Jadi, mulai sekarang jangan pernah meng-stereotipikal-kan apapun, terutama anak tunggal.
Belajar meninjau dulu latar belakangnya, baru teman-teman disini bisa menarik sebuah kesimpulan sendiri :)

Cheers!
- Hanna.

Komentar

Postingan Populer