[Kimiawan Berbicara 02] Bilik Dekontaminasi itu HANYA untuk Petugas Medis dengan APD!

Halo!
Saya ucapkan selamat datang kembali bagi pengunjung setia blog saya. Bagi yang belum pernah mengunjungi blog saya, perkenalkan, saya Hanna. Jadi mulai dari sini, blog saya akan ber-segment. Agar lebih tersortir dan tertata sebagaimana mestinya. Hehe. Ini juga akan memudahkan teman-teman yang ingin mencari hal-hal yang berhubungan dengan minat baca kalian, tanpa perlu harus buka satu-satu dan lihat kalimat utamanya dulu. Sebenarnya ada sistem tag, tapi sungguh tidak begitu efisien di kasus blog yang memakai template gratisan seperti blog saya ini, hihi :(

So, jadi ini segment pertama untuk "Kimiawan Berbicara". Dimana isi dari segment ini yaitu mengajak teman-teman pembaca untuk berdiskusi bersama saya secara ilmiah mengenai judul yang diberikan.

- Hanna, 2020 -




Dalam sebuah studi kontaminasi lingkungan di rumah sakit Cina selama wabah COVID-19, SARS-CoV-2 terdeteksi dalam sampel lingkungan dari unit perawatan intensif khusus (ICU) COVID-19, ruang isolasi kebidanan khusus COVID-19 dan COVID-19 ruang isolasi khusus. SARS-CoV-2 juga terdeteksi pada objek seperti printer swalayan yang digunakan oleh pasien untuk mencetak sendiri hasil ujian, keyboard desktop, dan gagang pintu. Virus terdeteksi paling umum pada sarung tangan (15,4% sampel) dan jarang pada pelindung mata (1,7%) [6]. Bukti ini menunjukkan adanya SARS-CoV-2 di lingkungan pasien COVID-19, oleh karena itu memperkuat keyakinan bahwa fomites berperan dalam transmisi SARS-CoV-2; Namun, kepentingan relatif lebih jelas pada rute penularan ini dibandingkan dengan paparan langsung terhadap tetesan pernapasan masih belum jelas.


Area layanan kesehatan (ruang pasien, ruang tunggu, ruang prosedur, ruang resusitasi) di mana kasus COVID-19 yang dicurigai atau dikonfirmasi telah dinilai atau dirawat di rumah sakit harus berventilasi baik terlebih dahulu. Yang berarti bahwa virus tidak boleh keluar dari area tersebut. Apabila virus keluar dari area tersebut, maka penyebarannya akan semakin tidak terkontrol dan dapat menjangkit pasien lain.

Salah satunya dengan cara menyediakan bilik yang menjadi tempat persinggahan sementara para petugas medis setelah menangani pasien COVID-19. Bilik ini dilengkapi fasilitas seperti disinfectant sprayer, kipas yang akan menyaring udara dari dalam ke luar, saluran sanitasi yang telah dimodifikasi sehingga produk sekunder dari disinfektan tidak berbahaya bagi lingkungan. Berbagai inovasi seperti sensor maupun pijakan kaki untuk mengaktivasi sprayer dapat ditambahkan sesuai kebutuhan. Bilik ini efektif digunakan untuk menekan penyebaran SARS-CoV-2 diantara petugas medis. Penggunaan bilik ini harus disertai dengan APD ketika petugas medis hendak ‘mensterilkan diri’, agar efek samping dari disinfektan seperti korosif dan irritant dapat dihindari karena tidak terjadi kontak langsung antara senyawa disinfektan dan kulit.

Komentar

Postingan Populer